Rabu, 24 November 2010

Soal CPNS 2010 Lengkap

Dapatkan soal-soal CPNS lengkap dan kunci jawabannnya. KLIK DISINI

Kamis, 16 September 2010

Masjid Jamik Hopong Sudah “Marhillong”


Catatan Mudik : Mayjen Simanungkalit

INILAH masjid yang punya benang merah tentang sejarah masuknya Islam ke Tapanuli Utara (Taput), Sumatera Utara (Sumut). Masjid tua berusia ratusan tahun, dibangun sekitar tahun 1816 oleh Laskar Paderi dari Sumatera Barat, baru dapat direhap setelah 65 tahun usia kemerdekaan RI.

Masjid tersebut adalah Masjid Jamik, Dusun Hopong, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Taput, Sumut. Berkukuran 8 x 10 meter , persis di arah utara dusun yang dikenal sebagai dusun terpencil, tertinggal dan termiskin di provinsi Sumut itu.

Dusun Hopong jauh dari keramaian kota, tak terjangkau mobil innova, tak ada penerangan listrik PLN, tak terjangkau siaran TVRI, tak terjangkau sarana telekomunikasi telepon dan tak terjangkau sinyal handphon (HP).

Menuju dusun Hopong harus menempuh perjalanan kaki tidak kurang 24 KM dari jalan beraspal. Maka untuk sampai ke desa berpenduduk 40 KK dengan penduduk 100 persen beragama Islam itu, adalah perjuangan melelahkan. Dusun itu, dapat dilalui lewat jalur pekan Simangumban. Atau dari desa Padang Mandailing, Kecamatan Saipar Dolok Hole Tapsel melalui hutan belantara.

Di musim kemarau, memang ada alernatif lain untuk sampai ke Dusun Hopong, yakni dengan menggunakan mobil tua jenis Jeep bergardan dua. Namun penumpang harus punya nyali kuat dan merasa punya nyawa cadangan, karena rawan kecelakaan.

Hopong adalah satu dari 5 dusun di desa Dolok Sanggul, Kecamatan Simanguban, Taput. Yakni dusun Hopong, Panongkaan, Hapundung, Pansinaran, Lumban Garaga.

Jalan yang dibuka Pemkab Taput dengan pasir dan batu (Sirtu) sepanjang 8 KM, kondisi rusak parah. Batu pengeras jalan sudah bertebaran, disamping ancaman jatuh ke jurang di sisi kiri dan kanan sepanjang perjalanan.

Maka agar lebih aman dan tidak waswas, warga masih lebih melilih jalan kaki menuju dusun tersebut. Agar sampai ke Hopong, harus melewati dusun Lumban Garaga, Pansinaran, Panongkalan, dengan menelusuri celah-celah bukit barisan yang terjal.

Satu – satunya yang menyenangkan kalau menuju dusun Hopong, hanyalah saat menenemukan panorama alam yang asri, hutan perawan yang hijau dan hamparan lahan tidur yang luas.

MARHILLONG

Bersyukur saat mudik lebaran idul fitri 1413 H tahun ini, penulis berkesempatan mengunjungi dusun yang juga tempat kelahiran. Alhamdulillah, penulis pun berkesempatan menjadi imam khatib sholat ID di dusun Hopong.

“Alhamdulillah bere.., nga marhillong be masojid taon”, kata Pagibulan Siagian (64) tokoh pemuka Islam dusun Hopong saat penulis memasuki masjid itu.

Penulis sempat kaget tentang makna “Marhillong” yang dia maksud. Ternyata maksudnya adalah, masjid tua yang sudah berusia 100 tahun lebih itu, akhirnya jadi juga direhab. Marhillong artinya berkilau, karena sudah berlantai keramik.

Masjid Jamik Hopong memang kini sudah berlantai kramik, beratap seng, bertikar karpet, berlampu listrik tenaga surya dengan pengeras suara (TOA) yang dapat mengumandangkan azan radius 5 KM. Setelah direhap, tak ada lagi suara “Rukrek” seperti dahoeloe saat orang masuk Masjid itu.

Sajadah kumal yang daholoe terbuat dari tikar pandan sudah tak Nampak. Mimbar yang daholoe kumuh dimakan rayap sudah terbuat dari papan berketam. Atap yang dahoeloe sering bocor jika turun hujan kini sudah diganti seng baru berwarna putih. Tidak lagi seperti rumah panggung yang menunggu rubuh.

Kegiatan mengaji atau membaca Al-Qur’an dikalangan anak-anak pun, sudah dapat dilaksanakan malam hari. Penerangan lampu listrik tenaga surya sudah dapat dipadakan.

Bahkan air udhu yang daholoe sering “mellep” (tak jalan), kini sudah lancar. Pancuran dekat masjid itu, kini juga sudah menjadi tempat mandi yang mengasikkan dengan air yang jernih dan deras. Warga dusun Hopong pun sudah dapat menggunakan pancuran itu sebagai tempat MCK utama.

Penulis menyaksikan sendiri betapa khusuknya umat Islam di Hopong melaksanakan sholat subuh, diterangi listrik tenaga surya. Betapa bersyukurnya mereka memperoleh tempat bersujud yang bersih dan “Marhillong”. Malam takbiran disana pun, lebaran tahun ini sudah semarak. Allahu Akbar.

Masuknya Islam

Menurut cerita orang-orang tua yang diwariskan turun-temurun, Masjid Jamik Hopong pertama kali dibangun Laskar Paderi dari Sumatera Barat sekitar tahun 1816. Semula terbuat dari bangunan tepas bambu beratap ilalang.

Beberapa tahun kemudian saat Laskar Pelangi singgah di Hopong dipimpin oleh Tuanku Rao, Masjid tersebut diperluas. Bahkan dikabarkan, saat itu ratusan KK penduduk desa menganut pelebegu diislamkan.

Dalam perjalanan berikutnya, Masjid tersebut dibangun kembali dengan bentuk rumah panggung dari kayu. Berubah kemudian sekitar tahun 1950, diganti atapnya menjadi seng.

Karena itu banyak pendapat mengatakan, Masjid Hopong memiliki benang merah terhadap masuknya Islam ke Tapanuli Utara. Namun perkembangan Islam di daerah itu tidak lancar, terutama seteah masuknya pengaruh Kristen yang dikembangkan Missionaris Jerman Pendeta Nommensen dari arah kawasan Toba. Begitupun, di desa itu pernah bermukim tokoh tasauf yang punya berpengaruh seperti Lobe Pohom Pospos, Lobe Zakaria Sigian dan lainnya.

Perjuangan Panjang

Perubahan masjid Jamik Hopong dari yang reot menjadi “marhillong” tidak terjadi begitu saja. Ini perjuangan panjang ummat islam dan perantau desa itu. Ummat islam disana, sudah bertahun-tahun mendambakan pembangunan masjid itu, namun baru tahun ini terujud. Alhadulillah juga.

Penulis masih ingat betapa sulitnya menggalang dana untuk membuat Masjid Jamik Hopong seperti kondisi saat ini. Maklum, walau 100 persen penduduknya beraga Islam, tapi hanya petani tradisional yang miskin. Perantau desa itu pun belum ada yang berhasil. Mengharap bantuan Bazis Sumut ? Tak usalah. Percuma saja, sebab mereka tak pernah peduli.

Untungnya tahun 2009 silam penulis bincang-bincang dengan Sigit Praono Asri SE, Ketua Fraksi PKS DPRD Sumut waktu itu dan kini Wakil Ketua DPRD Sumut. Atas advokasi beliaulah, Masjid Jamik Hopong mendapat alokasi bantuan dari Biro Sosial dan kemasyarakatan Pemprovsu sebesar Rp 50 juta tahun anggaran 2010.

Sajadah dari karpet itu juga dari bantuan pribadi Arifin Nainggolan SH,MSi, yang saat itu juga anggota Fraksi PKS DPRD Sumut dan kini Ketua Komisi C DPRD Sumut. Dialah yang membeli dua gulungan karpet dan mengirimkan sendiri sampai ke Hopong.

Sedangkan pasilitas sambungan air minum sepanjang 4 KM lebih yang kini sudah lancar hingga mampu melayani dusun Hopong dan tiga dusun di sekitarnya, juga berkat advokasi Daudsyah MM yang saat itu Kepala Biro Pemberdayaan Masyarakat Pemprovsu.

Penulis meminta langsung kepada beliau, agar lewat program PNPM Mandiri yang berada dalam kewenangannya, memprogramkan hal itu. Dia merespon positif dan berkordinasi dengan pihak-pihak di PNPM Mandiri yang merupakan program pemerintah melalui Kementerian Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), guna mengatasi permasalahan pembangunan di tengah-tengah masyarakat.

Dengan direhapnya Masjid Jamik Hopong, warga sangat bersyukur. Walau hanya rehap sederhana, masih berdinding papan, ummat Islam sudah berterima kasih. Dalam ukuran desa itu, Masjid Jamik Hopong saat ini sudah merupakan nikmat luar biasa. Mereka merasa masih berkesempatan menikmati pembangunan walau setelah 65 tahun Indonesia meredeka.

Mereka berharap, jika pemerintah berkenan, bantuan rehap untuk Masjid Jamik Hopong kiranya dilanjutkan. Karena masjid itu belum memiliki kamar dan bak udhu, bagian teras belum di kramik.

Warga Hopong juga masih berharap kiranya jalan ke desa dibangun pemerintah, sehingga dapat dilalui kenderaan roda empat dengan mulus. Ya, mumpung kiamat belum tiba. ***

Tiga Gelombang Penyebaran Islam di Tapanuli

Gelombang pertama masuknya Islam ke Sumut berlangsung sebelum dinasti Sisingamangaraja dimulai pada sekitar pertengahan tahun 1500-an.

Dugaan paling kuat tentang awal masuknya Islam ke Sumut, adalah melalui transit pelayaran antara India atau Persia di sebelah barat dengan Tiongkok di bagian timur. Seperti dinyatakan Ridwan, pelaut-pelaut itu singgah di Barus dalam urusan pribadi, untuk berdagang, bukan penyebaran agama.

Bandar Barus, kini di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, sekitar 280 kilometer dari Medan, waktu itu termasuk tempat persinggahan terbesar di pantai barat Sumatera. Pedagang Gujarat dan Parsia selalu singgah di sini sebelum melanjutkan pelayaran.

Salah satu bukti atau petunjuk tentang mula masuknya Islam masih bisa dijumpai hingga sekarang, berupa makam Islam tua di 11 lokasi. Misalnya komplek makam Syeh Machmudsyah di Bukit Papan Tinggi, dan makam Syeh Rukunuddin di Bukit Mahligai di Desa Aek Dakka. Keduanya wafat pada tahun 440 dan 480 Hijriah. Angka itu diperoleh setelah menafsirkan tulisan pada nisannya.

Menurut penelitian Hasan Muarif Ambary dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1978 hingga 1980 dan diulangi pada tahun 1995, di dua komplek makam kuno itu terdapat lebih dari 100 kuburan. Makam tertua di komplek itu adalah makam Tuhar Amisuri. Wafat tahun 602 Hijriah atau 1212 Masehi. Makam tersebut 94 tahun lebih tua dibanding makam Sultan Malikul Shaleh di Mounasah Beringin, Kutakarang, Aceh.

Dengan bukti baru itu, Hasan yang juga guru besar di Fakultas Adab, Institut Agama Islam Negeri Jakarta dan Ketua Dewan Kurator Bayt Al Qur’an dan Museum Istiqlal, Jakarta, menduga bahwa komunitas Islam lebih dulu terbentuk di Barus, daripada di Aceh. Namun karena tak ada bukti-bukti sejarah lebih kuat, tidak bisa disimpulkan bahwa Barus yang masuk dalam wilayah Tapanuli, merupakan kota Islam pertama di Nusantara.

Kesimpulan sementara bahwa Islam masuk pertama sekali melalui Barus cukup beralasan. Berita tentang Kerajaan Islam di Aceh baru diketahui setelah seorang penjelajah dunia Marcopolo menulis, dia sempat singgah di Kerajaan Samudera Pasai tahun 692 H atau tahun 1292 M. Di sana Marcopolo menemui banyak orang Arab menyebarkan Islam.

Catatan lain bersumber dari Ibnu Battuthah, seorang pengembara Muslim dari Maroko yang wafat tahun 1377. Ia singgah di Samudera Pasai tahun 746 H atau tahun 1345 M. Raja waktu itu Malik Al-Dzahir II (1326-1348 M), seorang yang kuat berpegang pada agama Islam dalam aliran Mazhab Syafi’i. Menurutnya Pasai telah menerima Islam dalam jangka masa satu abad sebelum kedatangannya.

Samudera Pasai memang bukan kerajaan Islam pertama di Aceh. Ia adalah kerajaan kedua setelah Peureulak (Perlak) yang berdiri pada hari Selasa, 1 Muharram 225 H dengan raja pertamanya Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Bahkan Perlak juga jadi kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Setelah itu baru muncul Samudera Pasai, Kerajaan Aceh Darussalam dan kerajaan-kerajaan bercorak Islam lainnya di Indonesia seperti Malaka, Demak, Cirebon serta Ternate.

Namun pengembangan Islam di Aceh sangat berhubungan erat dengan raja pertama Samudera Pasai Sultan Malikul Saleh (1276-1297 M). Sultan Malik Al – Salih atau biasa disebut Malikul Saleh, nama aslinya Marah Silu sebelum disyahadatkan Sheikh Ismail dari Makkah dan mendapat gelar Al Marhum Paduka Said Samudera setelah meninggal dunia.

Dengan demikian, makam-makam di Barus lebih tua umurnya dibanding masa berdiri kerajaan-kerajaan Islam di Aceh. Bahkan jauh lebih tua dibanding makam Fathimah binti Maimun di Gresik, Jawa Timur. Sebelumnya makam ini dianggap peninggalan Islam tertua di Indonesia karena pada nisan makam wanita asal Arab ini, tertulis angka tahun 475 H/1082 M, atau pada zaman Kerajaan Singasari.


Masih Dangkal
-----------------

Walau Islam pertama sekali masuk melalui Tapanuli, namun karena ketiadaan pendakwah secara khusus itu, maka Islam diterima dengan dangkal serta masih dicampuri dengan mistik karena adat budaya lokal masa itu adalah animisme.

Masa persinggahan pedagang Arab itu ternyata tidak cukup lama untuk menanamkan ajaran Islam secara utuh. Sesudah kedatangan bangsa Portugis ke Nusantara sekitar abad ke 15, maka para pelaut pedagang Islam itu menghilang karena selalu mendapat serangan dari pelaut Portugis. Pusat perdagangan pun sudah berpindah ke Selat Malaka. Akibatnya Barus hilang dalam peta pelayaran internasional.

Namun kedatangan sementara pedagang Muslim itu telah menyebabkan pembauran budaya. Sebagian orang Batak di wilayah Barus mulai mengadaptasi Islam. Mereka yang beragama Islam karena proses pernikahan antara para pedagang Persia dengan penduduk lokal, dengan sendirinya menyisakan corak Islam, walau ajaran Islam belum diterima secara sempurna.

Menurut Ridwan, proses masuknya Islam ke Barus itu lebih menekankan pada hal bersifat tauhid, menekankan pada aspek pembentukan keyakinan.

“Ternyata perkembangan Islam melalui Barus tidak terlalu ekspansif. Mungkin ada persoalan perbedaan kultur, budaya. Kedua mungkin perbedaan ras, mungkin orang Arab itu berkulit putih, sedangkan Batak berkulit hitam. Kemudian ada tantangan dari kepercayaan lokal yang menganut animisme dan dinamisme. Karena itu Islam hanya beredar di situ saja tidak melebar lebih jauh,” tukas Ridwan.

Ditamsilkan Ridwan, sebenarnya hampir semua sejarah dunia, kalau pendakwah berpindah tempat, biasanya Islam itu akan tersebar di tempat kepindahannya itu. Karena Islam mudah masuk dalam ke semua masyarakat.

“Lihat saja di Indonesia. Islam tidak dikembangkan dengan ekspansi, tetapi kok bisa menyebar seperti sekarang ini?” katanya.


Gelombang Kedua Melalui Aceh
-------------------------------------

Pedagang Parsia yang singgah di Barus, diyakini merupakan suatu kafilah dengan tujuan utama daratan Tiongkok (China). Selain di Barus, sebagian di antara mereka juga mendarat di Aceh. Diduga kuat, di sini proses penyebaran lebih serius. Terbukti Kerajaan Samudera Pasai kemudian berdiri dan menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Sejarah mencatat, Aceh menjadi kerajaan kuat. Sempat berkuasa hingga ke Bengkulu, Malaka dan termasuk Minangkabau. Di Minangkabau, kekuasaan Aceh terutama di kawasan pesisir barat, seperti Tiku, Padang, Salido, Indrapura serta Pariaman.

Aceh pernah mengangkat seorang sultannya di Pariaman, Sulthan Mughal, cucu dari Sultan Aceh Ali Mughayat Syah. Pada tahun 1576 dia dijeput ke Pariaman dan dilantik menjadi Sultan Aceh dengan gelar Sultan Seri Alam. Kekuasaan Aceh berakhir tahun 1663, seiring dengan masuknya kongsi dagang Belanda, VOC (Verenigde Oostindische Compagnie).

Aceh juga tercatat pernah menaklukkan Kerajaan Aru atau Haru, Kota Medan sekarang, pada bulan Januari dan Nopember 1539. Penyerangan itu akhirnya membuat sebagian besar penduduk Haru masuk Islam. Haru lantas menjadi kerajaan Islam pertama di wilayah Sumut sekarang.

Islam dari Aceh ini menyebar kawasan pantai timur Sumut. Sebab itu umat Islam yang bermukim di pinggiran pantai timur seperti Medan, Asahan hingga Labuhan Batu merupakan buah penyebaran dari Aceh ini.

“Polanya juga mudah dilihat sebab penyebaran Islam dari Aceh dalam bentuk tasawuf atau tharekat. Lebih banyak menekankan pada pada amaliyah ubudiyah. Sebab itu kita lihat di sini hampir tidak ada masalah atau ketegangan hubungan antara Islam dengan agama lokal. Karena kalau kita bicara tasawuf atau tharekat itu adalah pendekatan esoteris,” kata Ridwan.

Dikatakan Ridwan lagi, pendekatan tasawuf atau tharekat itu lebih diutamakan pada pendalaman makna. Tidak mempersoalkan simbol-simbol sosial. Sepanjang makna sudah masuk, tidak ada persoalan.

“Karena itu pola Islam seperti ini lebih mudah masuk dan bertahan lebih lama. Tidak menciptakan ketegangan. Seperti tepung tawar, orang tepung tawar biasa saja. Sebelum Islam tepung tawar, setelah Islam tepung tawar juga. Biasa saja. Persoalannya bukan pada bentuk tepung tawar, tetapi makna di balik tepung tawar kalau makna ini sudah seusai peraturan silahkan saja,” tukas Ridwan yang juga Ketua Forum Komunikasi Pemuka Antaragama (FKPA) Sumut.

Lepas dari tiga pola tersebut, saat ini penganut Islam merupakan mayoritas di Sumut. Data dari Kantor Wilayah Departemen Agama Sumut menyebutkan dari 11.814.233 penduduk Sumut (berbeda dengan data Biro Pusat Statistik Sumut yang menyatakan penduduk Sumut berjumlah 11.890.399 jiwa) sebanyak 7.506.103 orang memeluk Islam. Hal itu juga berpengaruh pada banyaknya jumlah rumah ibadah.

Jadi kendatipun tiga gelombang pengislaman tetap tidak berjalan di Tanah Batak, namun toh kini Islam terus berkembang dan menjadi mayoritas di Sumut.

Namun seorang penda’i keturunan China/Tionghoa di Medan, Ibrahim Musa Daud Isa Muhammad Alwy (Chou Chin Wie) menyatakan, perkembangan belakangan ini di Sumut, sebagian masyarakat keturunan China yang beragam Islam, sudah mulai mengalami pemurtadan.

“Tidak diketahui alasan pastinya. Kemungkinan masalah politis. Mungkin dahulu sebelum masa reformasi, lebih aman jika beragama Islam. Namun kini, memakai agama keturunan yang lama juga tidak masalah. Tetapi entahlah, saya tidak begitu bisa menjelaskannya,” kata Ibrahim sambil menyatakan paling hanya sekitar seribu orang saja etnis China yang memeluk Islam di Sumut dari sekitar 1.670.000 yang terdata. Jumlah itu kemungkinan akan terus berkurang karena alasan reformasi tadi.


Gelombang Terakhir
-----------------------

Syawal 1233 Hijriah atau sekitar tahun 1816 Masehi. Tak kurang dari lima ribu orang pasukan berkuda Tentera Paderi masuk ke Mandailing, yang merupakan daerah perbatasan Sumatera Utara (Sumut) dengan dengan Sumatera Barat sekarang. Seperti semua penunggang kuda, Tuanku Rao yang bernama Fakih Muhammad, pemimpin pasukan ini mengenakan jubah putih dengan serban di kepala, khas Tuanku Imam Bonjol.


Mereka masuk melalui Muara Sipongi dan menaklukkan Penyambungan dan terus bergerak ke utara. Misi utama penyerangan itu untuk mendirikan Islam yang kaffah, yang sesuai dengan Al Quran dan Hadist sesuai dengan paham Islam Wahhabi yang dianut Paderi. (lihat Andil Paderi di Tanah Batak)

Tidak begitu sulit proses penegakan syariat Islam ini karena ternyata sebagian orang Mandailing dan Angkola (sekarang Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padang Sidempuan di Sumut) ternyata sudah ada yang memeluk Islam.

Usai menaklukkan Mandailing, pasukan dengan pedang di pinggang ini, bergerak lebih ke utara. Rencananya mereka akan menaklukkan tanah Batak yang pada saat itu masih menganut animisme dan dinamisme.
Di Sipirok, kini salah satu kecamatan di Tapanuli Selatan, mereka berhenti untuk menyusun strategi dan menambah kekuatan pasukan. Tuanku Rao lalu merekrut ribuan penduduk setempat yang sudah diislamkan/telah masuk islam dalam pasukannya. Pasar Sipirok yang sekarang dahulunya merupakan tempat latihan infrantri dan kavaleri, pasukan berkuda.


Setelah jumlah pasukan dirasa cukup dan strategi telah matang, Tuanku Rao melanjutkan penyerangan ke pusat kerajaan Batak yang dipimpin Sisingamangaraja X yang bernama Ompu Tuan Nabolon.

Pasukan Paderi bergerak melewati Silantom, Pangaribuan, Silindung dan terus ke Butar dan Humbang yang merupakan daerah pusat kekuasaan Sisingamangaraja X. Di Desa Butar pasukan Paderi bertemu dengan pasukan Sisingamangaraja X. Naas, dalam pertempuran itu, Sisingamangaraja X tewas dengan leher terputus.

Menurut Ompu Buntilan alias Batara Sangti dalam bukunya Sejarah Batak, Sisingamangaraja X yang lahir pada tahun 1785, meninggal dunia pada tahun 1819 dalam usia 34 tahun. Waktu dia baru berkuasa sebagai raja selama empat tahun saja.

Satu hal yang pasti, penyerangan itu memakan banyak korban. WA Braasem dalam bukunya Proza en Poëzie om her Heilige Meer der Bataks menulis, “Pada permulaan abad yang lalu maka oleh apa yang dinamakan Penyerbuan Paderi (mazhab Islam ortodoks yang datang dari Minangkabau untuk menyebarkan Islam dengan api dan ujung pedang) ke pusat Tano Batak yang menurut tafsiran Junghuhn lebih dari 200 ribu orang yang mati terbunuh, di mana rakyat toh tidak menjadi Islam.”

Kesan agak berlebihan tentang serangan itu tertulis dalam Sedjarah HKBP yang ditulis Dr J Sihombing. Disebutkan, pasukan Tuanku Rao membakar rumah-rumah penduduk, ternak dipotong, barang-barang berharga dirampas. Rakyat berlarian, bersembunyi di hutan-hutan dan dalam gua-gua. Mulut anak kecil disumpal dengan kain, agar tidak terdengar suara atau tangisannya.

Perlawanan memang dilakukan rakyat Batak, tetapi Paderi sangat kuat. Mereka pun kalah. Penyerangan itu mengakibatkan tanah Batak banjir darah dan mayat. Perang ini juga mengakibatkan rakyat Batak miskin luar biasa. Lalu muncul dampak baru, penyakit kolera yang bersumber dari gelimpangan mayat-mayat. Belum ada obat penyembuh. Setiap orang yang terjangkit, paling lama dalam dua atau tiga hari dan akhirnya meninggal dunia.

Wabah kolera itu turut menjadi alasan keluarnya Paderi dari Batak. Mereka kembali ke Minangkabau untuk menghadapi Belanda yang semakin menancapkan kukunya. Dalam sebuah pertempuran di Air Bangis, Kab. Pasaman, Sumatera Barat, pada Januari 1833, Tuanku Rao akhirnya meninggal dunia. Mayatnya tidak ditemukan, kemungkinan dicampakkan Belanda ke tengah laut.

Usai Tuanku Rao memimpin pasukan ke Batak, datang lagi satu pasukan Paderi lainnya ke Mandailing, dipimpin Tuanku Tambusai. (lihat Rao dan Tambusai Jadi Rebutan)

Berbeda juga dengan Tuanku Rao yang masuk ke Mandailing melalui Muara Sipongi, maka pasukan masuk melalui Sibuhuan, Padang Lawas, Padang Bolak, walau akhirnya juga ke Sipirok. Di sini pula dibangun cikal-bakal mesjid pertama di Sipirok secara sederhana. Mesjid bernama Raya Sori Alam Dunia Sipirok Mashalih yang pemugarannya dalam ujud yang sekarang dibangun sejak 16 Juli 1926 itu secara resmi dimasuki pada 16 Juli 1933 dan masih dipergunakan hingga sekarang.

Kendati sama-sama berasal dari Paderi, namun dalam pengislaman pola Tuanku Tambusai sudah lebih lembut dibanding Tuanku Rao. Namun yang pasti kedua misi pengislaman tersebut pada akhirnya menjadikan Mandailing masa kini, yakni Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padang Sidempuan sebagai daerah dengan persentase pemeluk Islam terbesar di Sumut.

Serangan Paderi di bawah pimpinan kedua tokoh tersebut, merupakan gelombang terakhir dari tiga gelombang masuknya Islam ke Sumut. Yang unik, dari tiga gelombang masuknya Islam itu, tidak satupun berhasil membuat Islam tersebar di Tanah Batak, wilayah Kabupaten Tapanuli Utara dan Toba Samosir sekarang.

“Seolah ada rantai yang terputus dalam proses penyebaran Islam di Tanah Batak,” kata Profesor HM Ridwan Lubis, Guru Besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut.

Menurut Ridwan kegagalan proses pengislaman di Tanah Batak karena polanya salah. Apalagi tentara Paderi meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Batak. Dalam sejumlah catatan cendikiawan Batak, serangan Paderi merupakan kepedihan pertama yang dialami masyarakat Batak. Sedangkan kepedihan kedua diakibatkan perang melawan penjajahan Belanda tahun 1877.

“Saya melihat kegagalan itu karena Wahhabi membawa corak Islam puritan gerakan kepada pemurnian. Kedatangan Islam ke sana bukan dalam wacara tasawuf, tetapi dalam wacana fiqh. Mereka membawa tema perubahan simbol,” tukas Ridwan.

Pola ini, kata Ridwan, tentu akan menghadapi perlawanan, berkontroversi dengan budaya lokal. Wacana Wahhabi itu cocoknya untuk mereka yang baru masuk Islam, makanya berjalan di Mandailing.

“Jika pakai tasawuf mestinya Tapanuli akan Islam juga,” tukas Ridwan.


Kesulitan Penentuan
-------------------------

Menurut Ridwan, sebenarnya agak sulit menentukan tentang bagaimana proses masuknya Islam ke Sumut. Dibutuhkan studi lebih mendalam, terutama tentang peninggalan-peninggalan sejarah, sehingga akan diperoleh gambaran lebih jelas tentang proses masuknya Islam tersebut.

“Ada tiga teori menentukan bagaimana Islam masuk. Pertama bagaimana Islam datang, paling tidak ada satu dua orang yang sudah Islam. Kedua bagaimana Islam berkembang, artinya Islam sudah membentuk komunitas suatu masyarakat. Biasanya jika ini jadi patokan, maka kita melihat adanya peninggalan komunitas seperti adanya mesjid dan mushola. Ketiga, ketika Islam sebagai kekuatan politik, Islam sebagai sebuah kerajaan,” kata Ridwan.

Agak sulit, kata Ridwan, menentukan waktu masuk sebenarnya. Pasalnya Islam datang ke Sumut bukan dalam bentuk ekspedisi khusus. Jadi kehadiran Islam karena kedatangan, aktivitas, kreativitas dan gagasan pribadi.

“Ini bukan hanya di Sumut, tetapi di Indonesia atau Asia Tenggara. Karena Islam datang dalam bentuk dakwah, bukan ekspansi. Makanya sulit menentukan,” kata Ridwan.***

Sumber :http://bs-ba.facebook.com/topic.php?uid=47641186265&topic=9675

Penyebaran Islam di Tapanuli

Syawal 1233 Hijriah atau sekitar tahun 1816 Masehi. Tak kurang dari lima ribu orang pasukan berkuda Tentera Paderi masuk ke Mandailing, yang merupakan daerah perbatasan Sumatera Utara (Sumut) dengan dengan Sumatera Barat sekarang. Seperti semua penunggang kuda, Tuanku Rao yang bernama Fakih Muhammad, pemimpin pasukan ini mengenakan jubah putih dengan serban di kepala, khas Tuanku Imam Bonjol.

Mereka masuk melalui Muara Sipongi dan menaklukkan Penyambungan dan terus bergerak ke utara. Misi utama penyerangan itu untuk mendirikan Islam yang kaffah, yang sesuai dengan Al Quran dan Hadist sesuai dengan paham Islam Wahhabi yang dianut Paderi. (lihat Andil Paderi di Tanah Batak)

Tidak begitu sulit proses penegakan syariat Islam ini karena ternyata sebagian orang Mandailing dan Angkola (sekarang Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padang Sidempuan di Sumut) ternyata sudah ada yang memeluk Islam.

Usai menaklukkan Mandailing, pasukan dengan pedang di pinggang ini, bergerak lebih ke utara. Rencananya mereka akan menaklukkan tanah Batak yang pada saat itu masih menganut animisme dan dinamisme.
Di Sipirok, kini salah satu kecamatan di Tapanuli Selatan, mereka berhenti untuk menyusun strategi dan menambah kekuatan pasukan. Tuanku Rao lalu merekrut ribuan penduduk setempat yang sudah diislamkan/telah masuk islam dalam pasukannya. Pasar Sipirok yang sekarang dahulunya merupakan tempat latihan infrantri dan kavaleri, pasukan berkuda.

Setelah jumlah pasukan dirasa cukup dan strategi telah matang, Tuanku Rao melanjutkan penyerangan ke pusat kerajaan Batak yang dipimpin Sisingamangaraja X yang bernama Ompu Tuan Nabolon.

Pasukan Paderi bergerak melewati Silantom, Pangaribuan (Kampung Halaman yang punya Blog Ini Hendra Pakpahan), Silindung dan terus ke Butar dan Humbang yang merupakan daerah pusat kekuasaan Sisingamangaraja X. Di Desa Butar pasukan Paderi bertemu dengan pasukan Sisingamangaraja X. Naas, dalam pertempuran itu, Sisingamangaraja X tewas dengan leher terputus.

Menurut Ompu Buntilan alias Batara Sangti dalam bukunya Sejarah Batak, Sisingamangaraja X yang lahir pada tahun 1785, meninggal dunia pada tahun 1819 dalam usia 34 tahun. Waktu dia baru berkuasa sebagai raja selama empat tahun saja.

Satu hal yang pasti, penyerangan itu memakan banyak korban. WA Braasem dalam bukunya Proza en Poëzie om her Heilige Meer der Bataks menulis, “Pada permulaan abad yang lalu maka oleh apa yang dinamakan Penyerbuan Paderi (mazhab Islam ortodoks yang datang dari Minangkabau untuk menyebarkan Islam dengan api dan ujung pedang) ke pusat Tano Batak yang menurut tafsiran Junghuhn lebih dari 200 ribu orang yang mati terbunuh, di mana rakyat toh tidak menjadi Islam.”

Kesan agak berlebihan tentang serangan itu tertulis dalam Sedjarah HKBP yang ditulis Dr J Sihombing. Disebutkan, pasukan Tuanku Rao membakar rumah-rumah penduduk, ternak dipotong, barang-barang berharga dirampas. Rakyat berlarian, bersembunyi di hutan-hutan dan dalam gua-gua. Mulut anak kecil disumpal dengan kain, agar tidak terdengar suara atau tangisannya.

Perlawanan memang dilakukan rakyat Batak, tetapi Paderi sangat kuat. Mereka pun kalah. Penyerangan itu mengakibatkan tanah Batak banjir darah dan mayat. Perang ini juga mengakibatkan rakyat Batak miskin luar biasa. Lalu muncul dampak baru, penyakit kolera yang bersumber dari gelimpangan mayat-mayat. Belum ada obat penyembuh. Setiap orang yang terjangkit, paling lama dalam dua atau tiga hari dan akhirnya meninggal dunia.

Wabah kolera itu turut menjadi alasan keluarnya Paderi dari Batak. Mereka kembali ke Minangkabau untuk menghadapi Belanda yang semakin menancapkan kukunya. Dalam sebuah pertempuran di Air Bangis, Kab. Pasaman, Sumatera Barat, pada Januari 1833, Tuanku Rao akhirnya meninggal dunia. Mayatnya tidak ditemukan, kemungkinan dicampakkan Belanda ke tengah laut.

Usai Tuanku Rao memimpin pasukan ke Batak, datang lagi satu pasukan Paderi lainnya ke Mandailing, dipimpin Tuanku Tambusai. (lihat Rao dan Tambusai Jadi Rebutan)

Berbeda juga dengan Tuanku Rao yang masuk ke Mandailing melalui Muara Sipongi, maka pasukan masuk melalui Sibuhuan, Padang Lawas, Padang Bolak, walau akhirnya juga ke Sipirok. Di sini pula dibangun cikal-bakal mesjid pertama di Sipirok secara sederhana. Mesjid bernama Mesjid Raya Sori Alam Dunia Sipirok Mashalih yang pemugarannya dalam ujud yang sekarang dibangun sejak 16 Juli 1926 itu secara resmi dimasuki pada 16 Juli 1933 dan masih dipergunakan hingga sekarang.

Kendati sama-sama berasal dari Paderi, namun dalam pengislaman pola Tuanku Tambusai sudah lebih lembut dibanding Tuanku Rao. Namun yang pasti kedua misi pengislaman tersebut pada akhirnya menjadikan Mandailing masa kini, yakni Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padang Sidempuan sebagai daerah dengan persentase pemeluk Islam terbesar di Sumut.***


Sumber : http://dinulislami.blogspot.com/2009/08/penyebaran-islam-di-tapanuli.html

Jumat, 23 Oktober 2009

Soal Ujian Test CPNS 2009. Mau ?

Anda mencari soal ujian test CPNS 2009-2010 ? Atau mau bocoran soal formasi dan trik memenangkan Test CPNS 2009-2010 ?klik disini


Minggu, 29 Maret 2009

Dapat Duit Dari Internet, Mau ?

Mau Dapat Uang ?

Senin, 23 Februari 2009